20 May 2013

Komponen Matematisasi dalam Pembelajaran Matematika



Istilah pembelajaran telah diperkenalkan kepada khalayak pendidikan untuk menggantikan posisi kata pengajaran. Kata pengajaran lebih berorientasi bagaimana guru mengajar siswa sehingga ketuntasan dalam menyelesaikan materi pelajaran merupakan salah satu tolak ukurnya. Kondisi ini tidak begitu menghasilkan apa yang diharapkan karena pada kenyataannya tidak berdampak pada siswa bagaimana cara mereka mengelola informasi yang diberikan untuk mengembangkan daya pikirnya. Sehingga muncullah istilah pembelajaran sebagai suatu istilah yang digunakan dan diiringi dengan munculnya model-model pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis masalah, Contextual teaching and Learning (CTL), dan sebagainya untuk lebih mengupayakan agar siswa aktif belajar.
Proses pengajaran matematika mengarahkan siswa untuk bekerja dengan matematika. Guru berusaha memposisikan diri sebagai fasilitator dalam proses belajar siswa. Guru bertugas sebagai pendamping dan pembimbing yang senantiasa berupaya mengarahkan siswa untuk bekerja sama dalam memecahkan masalah matematika selama proses pembelajaran berlangsung. Jadi ada proses sosialisasi sehingga dalam membimbing siswanya, siswa mampu untuk bekerja dalam matematika sehingga terbina situasi belajar matematika.
Dalam pendidikan matematika dikenal dua komponen matematisasi yang sangat penting yaitu matematisasi horizontal dan matematisasi vertical. (Marpaung, 2001: 2). Matematisasi horizontal menunjuk pada proses transformasi masalah yang dinyatakan dalam bahasa sehari-hari kebahasa matematika (Marpaung, 2001: 2). Sejalan dengan pendapat tersebut, Yuwono (2001: 3) menyatakan bahwa: Pematematikaan horizontal berkaitan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sebelumnya bersama intuisi mereka sebagai alat untuk menyelesaikan masalah dari dunia nyata.
Pernyataan tersebut diatas memperkuat pendapat Freudenthal  (1991), bahwa: pematematikaan horizontal berkaitan dengan pengubahan dunia nyata kedalam simbol-simbol matematika, sedangkan pematematikaan vertikal melibatkan pengubahan dari simbol-simbol kesimbol matematika lainnya yang lebih abstrak, (Yuwono, 2001: 4).
De Lange (1987) dalam Yuwono (2001: 3-4) berpendapat bahwa aktivitas yang dapat digolongkan dalam pematematikaan horizontal meliputi: pembuatan skema, merumuskan dan mengambarkan masalah dalam cara yang berbeda, menemukan hubungan-hubungan dan keterkaitan, mengingat aspek-aspek yang serupa dalam masalah yang berbeda, merumuskan masalah nyata dalam bahasa matematika dan merumuskan masalah nyata dalam model matematika yang telah dikenal.
Matematika vertikal adalah proses dalam matematika itu sendiri (Marpaung, 2001: 2). Sementara itu  Yuwono, (2001: 3) mengemukakan bahwa pematematikaan vertikal berkaitan dengan proses organisasi kembali pengetahuan yang telah diperoleh dalam simbol-simbol matematika yang lebih asbtrak. Dilanjutkannya aktivitas yang merupakan pematematikaan vertikal adalah: menghaluskan dan memperbaiki model, menggunakan model yang berbeda, memadukan dan mengkombinasikan beberapa model, membuktikan keteraturan merumuskan konsep matematika yang baru dan perampatan.  Yuwono, (2001: 4).
a)      Agar komponen matematisasi tercapai perlu kerja keras secara profesional dari setiap pengajar dan pengembangan matematika khususnya pengajaran matematika, Marpaung memberikan saran bagaimana cara membantu siswa belajar matematika di sekolah dasar. Cara membantu siswa belajar matematika yang dimaksud adalah: Jangan lukai perasaan siswa (anak yang berbuat salah, jangan dimarahi, karena berbuat salah bukan dikehendakinya, jika anak tersinggung/terluka maka mereka tidak mau atau tidak mampu lagi memperhatikan informasi yang disampaikan kepadanya).
b)      Bersikaplah terbuka dan ajaklah bersifat terbuka (katakan terus terang dan terbuka kesalahan mereka dengan cara santun tidak perlu marah; memperlihatkan sikap empati. Jangan menutup-nutupi terhadap kesalahan mereka.
c)      Pakailah cara-cara yang komunikatif (melalui tutur kata, mimik, atau gerakan atau pendekatan individual yang dirasakan bersahabat).
d)     Gunakan metode yang bervariasi dan pembelajaran yang bermakna (bermain dengan alat peraga untuk mengemukakan ide dan pikiran atau melakukan abstraksi untuk menemukan suatu konsep. (Marpaung, 2001: 8-9).
Agar pembelajaran bermakna, seorang guru perlu mengarahkan materi pembelajarannya pada permasalahan riil kehidupan khususnya yang bekaitan langsung dengan kehidupan siswa sehari-hari. Pendekatan pembelajaran seperti ini akan meningkatkan motivasi dan minat siswa untuk belajar matematika karena dirasakan matematika bermanfaat sebagai alat bantu kehidupannya.

Komponen Matematisasi dalam Pembelajaran Matematika Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Faisal Nisbah

0 comments: