Model Pembelajaran Discovery


Model  Pembelajaran Discovery
a.      Pengertian Model Pembelajaran Discovery
“Model pembelajaran Discovery adalah cara untuk menyampaikan ide atau gagasan lewat penemuan” Roestiyah (2001: 20). Belajar merupakan proses mental di mana murid mampu mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Proses mental yang dimaksud adalah mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur dan  membuat kesimpulan. Dalam teknik ini murid dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental itu sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan instruksi. Kata penemuan sebagai model mengajar merupakan penemuan yang dilakukan oleh murid, murid menemukan sendiri sesuatu hal yang baru, ini tidak berarti yang ditemukannya benar-benar baru, sebab sudah diketahui orang lain.

Model penemuan merupakan komponen dari suatu bagian praktik pendidikan yang seringkali diterjemahkan sebagai mengajar heuristik, yakni suatu jenis mengajar yang meliputi model-model yang dirancang untuk meningkatkan rentangan keaktifan murid yang lebih besar, berorientasi kepada proses, mengarahkan pada diri sendiri, mencari sendiri dan refleksi yang sering muncul sebagai kegiatan belajar. 
 
Model ini bertolak dari pandangan bahwa murid sebagai subjek dan objek dalam belajar, mempunyai kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal sesuai kemampuan yang dimilikinya. Proses pembelajaran harus di pandang sebagai stimulus yang dapat memandang murid untuk melakukan kegiatan belajar. Dengan demikian, murid lebih banyak melakukan kegiatan sendiri atau dalam bentuk kelompok memecahkan permasalahan dengan bimbingan maupun tanpa bimbinan guru. Model pembelajaran Discovery merupakan model mengajar yang berusaha meletakkan dasar dan mengembangkan cara berfikir ilmiah, murid betul-betul ditempatkan sebagai subjek yang belajar, peranan guru dalam model pembelajaran Discovery adalah pembimbing belajar dan fasilitator belajar. Tugas utama guru adalah memilih masalah yang perlu dilontarkan kepada kelas untuk dipecahkan oleh murid sendiri.
Tugas berikutnya dari guru adalah menyediakan sumber belajar bagi murid dalam rangka pemecahan masalah. Sudah barang tentu bimbingan dan pengawasan dari guru masih tetap  diperlukan, namun campur tangan terhadap kegiatan murid dalam pemecahan masalah harus dikurangi.
b.      Tujuan Model Pembelajaran Discovery
            Tujuan model pembelajaran Discovery menurut (Azhar 1991:  99) sebagai Model belajar mengajar yaitu:
1) kemampuan berfikir agar lebih tanggap, cermat dan melatih daya nalar (kritis, analisis dan logis); 2) membina dan mengembangkan sikap ingin lebih tahu; 3) mengembangkan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik; 4) mengembangkan sikap, keterampilan kepercayaan murid dalam memutuskan  sesuatu secara tepat dan obyektif.

Sebagai kesimpulan dimana guru harus terampil memilih persoalan yang relevan untuk diajukan kepada kelas, persoalan bersumber dari bahan pelajaran yang menantang murid/problematikdan sesuai dengan nalar murid.
Model pembelajaran Discovery memungkinkan murid menemukan sendiri informasi-informasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan instruksional, ini kearah peran guru sebagi pengelola interaksi belajar mengajar kelas, ditandai bahwa model penemuan tidak terlepas dari adanya keterlibatan murid dalam interaksi belajar mengajar.
c.       Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Discovery
Suryosubroto (2002:  200-201) mengemukakan beberapa kelebihan model discovery diantaranya:  
1) Membantu murid mengembangkan memperbanyak kesiapan, serta pengusaan keterampilan dalam proses kognitif pengenalan murid; 2) murid memperoleh pengetahuan yang bersifat sangat pribadi individual sehingga dapat kokoh mendalam tertinggal dalam jiwa murid tersebut; 3) dapat meningkatkan kegairahan belajar murid; 4) teknik ini dapat memberikan kesempatan kepada murid untuk dapat berkembang dan maju sesuai dengan kemampuanya masing-masing; 5) mampu mengarahkan cara murid belajar sehingga memiliki motivasi belajar yang sangat kuat dan giat; 6) membantu murid untuk memperkuat dan menambah kepercayaan pada diri sendiri dengan proses penemuan sendiri; 7) strategi ini lebih berpusat kepada murid tidak pada guru, guru sebagai teman dalam belajar saja atau dengan kata lain guru hanya terlibat sebagai fasilitator dalam pembelajaran membantu apabila diperlukan; 8) membantu perkembangkan murid menuju skeptisisme yang sehat untuk menemukan kebenaran akhir dan mutlak.

Sedangkan Roestiyah (2001: 21) disebutkan pula beberapa kekurangan yang perlu diperhatikan dalam menerapkan medel discovery yaitu:
1) Pada siswa harus ada kesiapan dan kematangan mental untuk cara belajar ini siswa harus berani dan berkeinginan dan mengetahui keadaan sekitar dengan baik; 2) bila kelas terlalu besar penggunaan tehnik ini akan kurang berhasil; 3) bagi guru dan siswa yang sudah biasa dengan perencanaan dan pengajaran tradisional mungkin akan sangat kecewa bila diganti dengan teknik penemuan; 4) dengan teknik ini ada yang berpendapat bahwa proses mental ini terlalu mementingka proses pengertian saja, kurang memperhatikan perkembangan pembentukan sikap dan keterampilan bagi siswa, 5) tehnik ini mungkin tidak memberikan kesempatan untuk berfikir kreatif.

Uraian singkat di atas mengisyaratkan bahwa Pembelajaran dengan penemuan sebagai model mengajar merupakan penemuan yang dilakukan oleh murid, dimana murid menemukan sendiri sesuatu hal yang baru, ini tidak berarti yang ditemukannya benar-benar baru, sebab sudah diketahui orang lain. Dalam pembelajaran model discovery, dapat mengembangkan kemampuan yang dimilikinya, serta memperoleh pengetahuan yang melatih berbagai kemampuan intelektual murid, merangsang ingin tahu dan memotivasi kemampuan murid, sehingga pembelajaran tersebut berlangsung secara aktif
d.      Langkah-langkah Model  Pembelajaran Discovery
Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam  melaksanakan Model pembelajaran Discovery menurut Syaiful (2003: 197) yaitu:
1)      Perumusan masalah untuk dipecahkan murid
Perumusan masalah untuk dipecahkan murid merupakan kegiatan belajar yang dilakukan guru  dengan memberikan pertanyaan  yang merangsang berfikir murid mengarah pada persiapan pemecahan masalah
2) Menetapkan jawaban sementara atau lebih dikenal dengan istilah hipotesis
Yaitu murid menetapkan hipotesis atau praduga jawaban untuk dikaji lebih lanjut (alternatif jawaban)
3) Murid mencari informasi, data, fakta yang diperlukan untuk  menjawab permasalahan/hipotesis.
Secara spontan murid menjelajahi informasi atau data untuk menguji  praduga   baik secara individu ataupun secara kelompok melalui kegiatan.
4)   Menarik kesimpulan jawaban atau generalisasi
Menarik kesimpulan yaitu murid menarik kesimpulan jawaban melalui informasi yang diperoleh melalui kegiatan
5)      Mengaplikasikan kesimpulan/generalisasi dalam situasi baru
Mengaplikasikan kesimpulan atau generalisasi merupakan penyajian hasil   kesimpulan jawaban yang diperoleh melalui kegiatan oleh wakil setiap kelompok melalui praktek didepan kelas.

Dari pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam menerapkan Model pembelajaran Discovery ini, seorang guru dianjurkan untuk tidak memberikan materi pelajaran secara utuh. Murid cukup diberi konsep utama untuk selanjutnya murid dibimbing agar dapat menemukan sendiri sampai akhirnya dapat mengorganisasikan konsep tersebut secara utuh. Untuk itu guru perlu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada murid untuk mendapatkan konsep-konsep yang belum disampaikan oleh guru dengan pendekatan belajar problem solving.
Pelaksanaan Model pembelajaran Discovery dibantu dengan Model diskusi dan pemberian tugas, diskusi untuk pemecahkan masalahan dilakukan oleh sekelompok kecil murid antara tiga sampai lima orang dengan arahan dan bimbingan guru. Kegiatan ini dilaksanakan pada saat tatap muka atau pada saat kegiatan terjadwal. Dengan demikian dalam model pembelajaran Discovery Model komunikasi digunakan, bukan komunikasi satu arah atau komunikasi sebagai aksi, tetapi komunikasi banyak arah atau komunikasi sebagai peran aksi. Saat ini model belajar penemuan menduduki peringkat atas dalam dunia pendidikan modern. Salah satu yang banyak diterapkan dalam pembelajaran di Indonesia adalah konsep belajar murid aktif atau cara belajar murid aktif (CBSA).