Teknik Diskusi Kelompok



a.      Pengertian dan Tujuan  Teknik Diskusi Kelompok
Diskusi kelompok merupakan suatu teknik bimbingan kelompok yang memberikan kesempatan kepada para siswa untuk memecahkan masalah secara bersama-sama dalam suatu kelompok. Dalam diskusi tersebut diharapkan setiap siswa secara aktif mengambil bagian untuk mengemukakan pendapat ataupun pengalaman-pengalamannya sehingga siswa yang lain dalam kelompok tersebut dapat mengambil manfaat dari pendapat dan pengalaman yang dikemukakan oleh temannya.
Diskusi kelompok juga merupakan percakapan yang sudah direncanakan antara tiga orang atau lebih dengan tujuan untuk memecahkan masalah atau untuk memperjelas suatu persoalan, dibawah pimpinan seorang pemimpin. Menurut Bloom (Romlah, 1989: 98) memberikan definisi diskusi kelompok dengan lebih menekankan kepada aspek akademis, sebagai berikut:
Diskusi kelompok merupakan usaha bersama untuk memecahkan suatu masalah, yang didasarkan pada sejumlah data, bahan-bahan, dan pengalaman-pengalaman, dimana masalah ditinjau selengkap dan sedalam mungkin secara ideal, pemimpin kelompok membantu kelompok untuk memusatkan perhatian pada masalah umum yang dihadapi, membantu meninjau masalah secara luas dan mendalam, membantu memberikan sumber-sumber yang dapat dipakai untuk pemecahan masalah, dan membantu kelompok mengetahui bilamana masalah sudah terpecahkan serta implikasi selanjutnya dari pemecahan tersebut.
  
Diskusi kelompok merupakan suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok individu dalam suatu interaksi tatap muka secara kooperatif untuk tujuan membagi informasi, membuat keputusan, dan memecahkan masalah. Menurut Djamarah (2005: 157), diskusi kelompok memiliki empat karakteristik, yaitu:
1.      Melibatkan sekelompok individu
2.      Melibatkan peserta dalam interaksi tatap muka tidak formal
3.      Memiliki tujuan dan bekerja sama
4.      Mengikuti aturan

Diskusi kelompok sangat bermanfaat untuk memberikan pengalaman pendidikan bagi anak didik yang terlibat didalamnya. Potensi yang berpengaruh terhadap partisipasi seperti saling memberi informasi, dapat mengeksplorasi gagasan, meningkatkan pemahaman baru terhadap hal-hal yang bermanfaat, dapat membantu menilai dan memecahkan masalah, mendorong pengembangan berfikir dan berkomunikasi secara efektif, meningkatkan keterlibatan kerjasama kelompok, terdapat keserasian dan moralitas, semuanya mempersiapkan anak didik untuk berpartisipasi secara efektif dalam kelompok untuk keterampilan hari depan mereka dalam masyarakat dan dalam kegiatan-kegiatan sosial.
Menurut Djamarah (2005: 159) yang perlu diperhatikan guru dalam diskusi kelompok di kelas yaitu:
1.      Diskusi harus dilakukan dalam suasana terbuka
2.      Perlunya perencanaan yang meliputi
a.   Pemilihan topik atau masalah yang akan didiskusikan. Untuk ini tiga hal yang perlu dipertimbangkan, adalah (1) minat anak didik, (2) kemampuan anak didik, (3) bermakna
b.    Pada permulaan diskusi, kelompok dapat menentukan apa yang dapat diharapkan dari hasil diskusi, dan dapat memecahkan topik menjadi sub topik untuk diteliti sebelumnya.
c.    Diskusi kelompok harus dipersiapkan secara baik, diperlukan nara sumber, pertanyaan kunci dan bahan yang tepat untuk mengatur jalannya diskusi, yang bertujuan membimbing dan memberi stimulasi pada tanggapan siswa
d.      Dalam mempersiapkan diskusi, ditetapkan dulu besarnya kelompok.
e.       Pengaturan tempat duduk
Untuk meningkatkan perhatian dan partisipasi, siswa harus duduk saling berhadapan sehingga dapat saling melihat atau memandang.

Dalam pelaksanaannya, diskusi kelompok tidak hanya untuk memecahkan masalah tetapi juga untuk mencerahkan suatu persoalan, serta untuk pengembangan pribadi. Dinkmeyer dan Muro (Romlah, 1989: 99) menyebutkan tiga macam tujuan teknik diskusi kelompok, yaitu antara lain:
1.    Untuk mengembangkan pengertian terhadap diri sendiri
2.    Untuk mengembangkan kesadaran tentang diri dan orang lain
3.    Untuk mengembangkan pandangan baru mengenai hubungan antar manusia.

Beberapa ahli lain seperti Jacobsen, dan Eggen (Romlah, 1989: 99), menyatakan bahwa teknik diskusi kelompok dapat digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan berikut:
1.    Mengembangkan keterampilan-keterampilan kepemimpinan
2.    Merangkum pendapat-pendapat kelompok
3.    Mencapai suatu consensus
4.    Menjadi pendengar yang aktif
5.    Mengatasi perbedaan-perbedaan yang tepat
6.    Mengembangkan keterampilan memparaprase
7.    Mengembangkan keterampilan-keterampilan belajar mandiri
8.    Mengembangkan keterampilan-keterampilan menganalisis, mensintesis dan menilai.

b.      Langkah-Langkah Pelaksanaan Teknik Diskusi Kelompok
Menurut Romlah (1989: 99), pelaksanaan diskusi kelompok meliputi tiga langkah yaitu sebagai berikut:
1.    Tahap perencanaan, fasilitator melaksanakan lima macam hal, yaitu:
a)      Merumuskan tujuan diskusi.
b)    Menentukan jenis diskusi, apakah diskusi kelas, diskusi kelompok-kelompok kecil atau diskusi panel.
c) Melihat pengalaman dan perkembangan siswa, apakah memerlukan pengarahan-pengarahan yang jelas, tugas yang sederhana dan waktu diskusi yang lebih pendek, atau sebaliknya.
d)     Memperhitungkan waktu yang tersedia untuk kegiatan diskusi
e)  Mengemukakan hasil yang diharapkan dari diskusi, misalnya rangkuman, kesimpulan-kesimpulan atau pemecahan masalah.
2.    Tahap pelaksanaan
Fasilitator memberikan tugas yang harus didiskusikan, waktu yang tersedia untuk mendiskusikan tugas itu, dan memberitahu cara melaporkan tugas, serta menunjuk pengamat diskusi apabila diperlukan.
3.    Tahap penilaian
Fasilitator meminta pengamat melaporkan hasil pengamatannya, memberikan komentar mengenai proses diskusi dan membicarakannya dengan kelompok.
  
Bulatau (1971) “mengemukakan dalam pelaksanaan teknik diskusi kelompok ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menciptakan situasi yang tepat bagi kelancaran jalannya hubungan atau komunikasi antar siswa yakni:
1)      Jumlah peserta setiap kelompok
Jumlah yang paling baik untuk menjalin hubungan antar peserta kiranya enam atau delapan, paling banyak sepuluh. Terlalu banyaknya anggota kelompok akan mengurangi pula rasa pertanggungjawaban untuk turut serta mencapai hasil yang diinginkan.
2)      Susunan tempat duduk
Dalam mengatur tempat duduk yang penting diingat adalah agar para peserta dapat saling berhadapan muka, dengan membentuk tempat duduk seperti lingkaran, dan pemimpin diskusi hendaknya sejajar dengan para anggota, tidak duduk memisah atau di kursi khusus.
3)      Lamanya waktu diskusi
Dalam pelaksanaan diskusi kelompok yang membahas suatu persoalan biasanya paling sedikit membutuhkan waktu empat puluh menit, pada umumnya waktu yang dibutuhkan satu jam lebih sedikit. Pembatasan waktu ada segi negatifnya yakni dapat memadamkan diskusi yang sedang menghangat, namun keuntungannya ialah bahwa para anggota mendapat kepastian jelas mengenai persoalan yang dibicarakan secara bersama sehingga tujuan dari diskusi tersebut dapat tercapai”.
Komponen yang juga penting dalam membimbing diskusi kelompok adalah peningkatan sumbangan (konstribusi) pendapat siswa, sehingga diskusi dapat hidup dan semua peserta berminat untuk berpartisipasi. Menurut Djamarah (2005: 161) peningkatan konstribusi dapat dilakukan dengan cara:
                  1.      Mengajukan pertanyaan kunci yang dapat meningkatkan diskusi.
                  2.     Menggunakan stimulasi berupa contoh-contoh verbal maupun nonverbal.
                  3.     Memancing dengan membuat komentar bertentangan.
              4.    Menunggu dengan tenang, tetapi juga mengharapkan sumbangan pikiran siswa daripada mengisi dengan pembicaraan yang asal bicara.
               5.     Memberi dukungan terhadap sumbangan pikiran siswa dengan mendengarkan penuh perhatian, pemberian komentar positif, dengan gerakan badan, dan secara akrab.


Referensi :

Romlah, T. 1989. Teori dan Praktek Bimbingan Kelompok. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.

Djamarah. Syaiful. 2005. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukasi Suatu Pendekatan Teoritis Psikologis. Jakarta: Rineka Cipta

Romlah, T. 1989. Teori dan Praktek Bimbingan Kelompok. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.


Bulatau. J. 1971. Teknik Diskusi Berkelompok. Yogyakarta: Kanisius


 



 



 


Teknik Diskusi Kelompok Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Faisal Nisbah

0 comments: