Blog Teknologi, Pendidikan, Informasi, Hiburan, Kesehatan, Islami dan Apapun Yang Bermanfaat

13 October 2016

Keistimewaan Mengenakan Songkok Bugis Recca' Dari Dulu dan Sekarang

Songkok recca dibuat dari serat-serat pelepah daun lontar, dibuat dengan cara dipukul hingga hanyalah seratnya saja yang tersisa. Serat pelepah daun lontar ini biasanya berwarna putih, namun setelah 2-3 jam berlalu warna akan berubah menjadi kecoklatan dan untuk mengubah warnanya menjadi hitam pekat serat harus direndam dengan lumpur lebih dari satu hari. Dengan kata lain, serat berwarna hitam tersebut bukan berasal dari pewarna, serat yang dipilih merupakan serat terbaik yang halus. Masyarakat Sulawesi tentu sudah mengenal songkok Bugis dengan sangat baik bahkan hapal betul dengan aturan-aturannya, karena sebagaimana aturan kasta yang diberikan di beberapa negara, pemakaian songkok pun diatur sedemikian ketatnya.


Sejarah Songkok Recca’
Songkok Recca atau juga dikenal sebagai Songkok Pamiring atau Songko’ To Bone dan Songkok Bugis. Pada mulanya dinamakan sebagai Songkok Recca disaat Raja Bone yang ke-15 yakni Arung Palakka menyerbu Tanah Toraja pada tahun 1683 dengan berhasil menduduki beberapa desa yang terdapat di kawasan Makale-Ratepoa. Para tentara Tanah Torajat melakukan perjalawan terhadap pasukan dari Arung Palakka. Dan yang menjadi salah satu ciri khas dari tentara kerajaan Bone saat itu adalah mengenakan sarung yang diikatkan di bagian pinggang atau kebiasaan lainnya dari Prajurit Tanah Toraja yang mengenakan sarung yang sengaja diselempangkan sehingga ketika terjadi pertempuran di dini hari kedua pasukan akan sulit untuk dibedakan mana yang musuh dan teman. Untuk mengatasi keadaan ini, Arung Palakka mencari strategi terbaru dengan memerintahkan prajurit-prajuritnya untuk memasang tanda di bagian kepala sebagai pembeda dengan cara mengenakan songkok bugis atau songkok recca’. Dan pada masa pemerintahan dari Raja Bone ke-32, yakni Lamappanyukki, songko recca menjadi kopiah resmi maupun songkok kebesaran bagi raja, ponggawa kerajaan dan para bangsawan yang akan membedakan tingkat derajat mereka. 

Aturan Mengenakan Songkok
Di masa itu terdapat aturan-aturan yang mengikat dan berlaku bagi siapa saja yang mengenakan songkok Bugis atau songkok pamiring.
1.    Yang mana para bangsawan yang memiliki kedudukan tinggi atau berkedudukan sebagai raja serta anak raja dinilai berdarah biru atau Maddara Takku, anak Mattola, dan Anak Matase bisa mengenakan songkok Bugis atau songkok pamiring yang dibuat dari emas murni.
2.    Adapun bagi Arung Mattola Menre dan Anak Arung Manrapi serta Anak Arung Sipuwe dan Anakarung bisa mengenakan songkok Bugis atau songkok pamiring dengan aturan lebar emasnya hanya 3/5 dari tinggi songkok tersebut.
3.    Sedangkan bagi golongan Rajeng Malebbi, dan Rajeng Matase bisa memakai songkok recca dengan lebar emas tidak lebih dari ½ tinggi songkoknya
4.    Golongan Tau Maradeka, Tau Deceng, Tau Sama diizinkan untuk memakai songkok Bugis dengan pinggiran emas
5.    Dan terakhir golongan Ata yang sama sekali tidak didizinkan untuk mengenakan songkok

Namun seiring berkembangnya waktu, aturan yang sudah dijelaskan di atas sudah tidak diberlakukan kembali dan seluruh lapisan masyarakat di tanah Toraja dapat mengenakannya. 

Songkok Bugis atau Songkok to Bone telah dijual di berbagai toko pakaian adat di kawasan Bone, Wajo, Makassar, Soppeng dan juga daerah lainnya yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan. Songkok ini bisa Anda dapatkan dengan harga mulai dari Rp. 50 ribu, tergantung dari model emas dan tergantung dari budget yang Anda miliki. Untuk mengenakan songkok ini, kita tidak perlu memadupadankannya dengan jas, dengan kemeja saja sudah cukup.

Keistimewaan Mengenakan Songkok Bugis Recca' Dari Dulu dan Sekarang Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Faisal Nisbah

0 comments: