Blog Informasi Apa Aja

13 Oktober 2016

Sejarah dan Keistimewaan Dari Tulisan Lontara Bugis

Lontara merupakan aksara tradisional dari masyarakat Bugis-Makassar. Tulisan lontara Bugis menurut budayawan Profesor Mattulada (alm) asalnya dari “sulapa eppa wala suji” dimana wala suji asalnya dari kata wala yang bila diartikan adalah pemisan/pagar atau penjaga lalu suji artinya putri. Wala Suji merupakan sejenis pagar bamboo yang ada dalam acara ritual bentuknya belah ketupat. Sedangkan sulapa eppa merupakan bentuk mistis dari kepercayaan orang Bugis-Makassar klasik yang mana menyimnbolkam susunan semesta, ada api, air, angin dan tanah. Tulisan atau huruf lontara ini umumnya digunakan untuk menulis tata aturan kemasyarakatan maupun pemerintahan. Naskahnya ditulis di daun lontar dengan memakai lidi atau kalam yang dibuat dari ijuk kasar.


Sejarah
Lontara merupakan perkembangan pesat dari tulisan Kawi  yang mana biasa digunakan di Indonesia tahun 800-an. Akan tetapi, tidak diketahui secara pasti, apakah lontara merupakan kerabat kawi lain atau turnan langsung dari tulisan kawi, kurang ada bukti yang membahas hal ini. Ada teori yang mangatakan bila tulisan lontara bugis berdasarkan pada tulisan Rejang, SumSel karena ada kesamaan dari grafis di antara kedua tulisan. Akan tetapi, hal ini dinilai tidak berdasar karena beberapa tulisan lontara merupakan hasil perkembangan yang usianya lebih muda.

Penggunaan
Tulisan lontara Bugis menggunakan sistem tulisan abugida yang mana meliputi dari 23 konsonan. Sama seperti aksara Brahmi lain, tiap konsonannya memiliki vocal inheren /a/ yang bisa dibaca /  / di dalam bahasa Bugis yang kemudian diubah dengan memberikan diakritik tertentu hingga menjadi vocal yang berbeda. Lontara ditulis dari arah kiri ke kanan, akan tetapi tulisan ini bisa juga ditulis secara tak beraturan. Pada umumnya, metode kedua yang diterapkan di dalam buku harian Bugis tua, tiap halamannya telah direservasi untuk peristiwa dalam 24 jam saja, dimana ketika seorang penulis kehabisan area untuk menulis peristiwa dalam 24 jam, maka baris terakhirnya akan berbelok dan berputar dengan alur zig-zag sehingga tidak tersisa halaman lagi di tempat tersebut.

Bentuk Aksara
Tulisan lontara Bugis atau huruf lontara kontemporer bisa diidentifikasi dengan sangat mudah dari segi bentuknya yang memang cenderung lebih anguler dan lebih kaku daripada aksara Brahmi lainnya. Setidaknya terdapat 2 varian tua yang berbentuk lebih melengkung; yakni Toa jangan-jangan serta Bilang-bilang, tulisan lontara biasanya dituliskan tanpa menggunakan spasi.

Konsonan
Tulisan lontara Bugis tidak memiliki tanda pemati vocal sebagaimana halant maupun virama yang biasanya digunakan di dalam aksara Brahmi. Empat klaster consonant yang kerapkali terjadi memang sengaja ditulis dengan menggunakan huruf spesifik, yakni ngka, nra, mpa, dan nca. Huruf “nca” ini merepresentasikan dari bunyi “nyca” akan tetapi ditransliterasikan sebagai “nca”

Diakritik Lainnya
Tulisan lontara Bugis sangat unik dan menarik untuk dikaji. Biasanya untuk menulis kata-kata asing serta mengurangi terjadinya kerancuan, font Bugis terbaru sengaja ditambahkan 3 diakritik yang akan menekan vocal inherent, menandakan glottal, meng-nasalkan vocal, gemitasi huruf yang mana tergantung dari posisinya. 

Tulisan lontara Bugis sebenarnya bisa kita pelajari sendiri melalui berbagai sumber yang ada baik di buku cetak maupun sumber online. Meskipun terkesan ribet dan terlalu kompleks, menguasai tulisan lontara bisa menjadi keahlian yang cukup mengesankan, bila kita mau belajar bahasa asing dengan sungguh-sungguh, mengapa menolak bila ditawarkan untuk mempelajari bahasa atau tulisan lontara ini yang sangat menarik dan unik untuk terus dikaji ulang.

Sejarah dan Keistimewaan Dari Tulisan Lontara Bugis Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Faisal Nisbah

0 komentar: